Hati-Hati pada 4 Hal Ini saat Menulis!

Hati-Hati pada 4 Hal Ini saat Menulis!

Menulis adalah aktivitas menuangkan ide atau gagasan kreatif ke dalam rangkaian kalimat. Ada beberapa tujuan berdasarkan jenis tulisan. Misalnya tulisan fiksi bertujuan menghibur serta menyampaikan berbagai pelajaran hidup, sementara tulisan nonfiksi bertujuan untuk menyebarkan ilmu yang dimiliki oleh seseorang pada orang lain secara luas.

Kedua jenis tulisan di atas sangat berbeda. Baik dari segi struktur, isi, hingga gaya bahasa. Namun, keduanya tetap memiliki persamaan dalam hal kaidah penulisan. Kaidah penulisan sangat penting untuk diperhatikan saat menulis. Ada banyak kaidah penulisan, tetapi secara umum meliputi kata baku, tanda baca, imbuhan dan kata hubung, serta tata kalimat.

  1. Kata Baku

Kata baku adalah ragam kata yang asli berbahasa Indonesia atau kata serapan yang kemudian dipatenkan menjadi salah satu bagian dari bahasa Indonesia. Kata baku harus merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI berisi kosakata baku dalam bahasa Indonesia lengkap dengan artinya. Contoh kesalahan kata yang tidak baku atau tidak sesuai dengan KBBI adalah ‘apotik’, padahal seharusnya ‘apotek’. Contoh lain adalah kata ‘pikir’ yang sering ditulis ‘fikir’, ‘hakikat’ yang sering ditulis ‘hakekat’, dan masih banyak lagi.

Selain kata baku, yang harus diperhatikan lagi adalah bahasa asing yang terdapat dalam tulisan, baik bahasa daerah maupun bahasa dari negara lain. Kata-kata tersebut harus ditulis secara miring untuk menandai bahwa kata tersebut bukan bahasa Indonesia. Kaidah penulisan yang sama berlaku juga pada kalimat berbahasa asing.

  • Tanda Baca

Tanda baca termasuk salah satu hal vital dalam tulisan. Tanda baca meupakan tanda atau simbol yang berfungsi untuk menunjukkan struktur tulisan, intonasi, dan jeda saat pembacaan. Dengan begitu, tanda baca berperan sebagai stabilisator kalimat agar maksud yang disampaikan oleh penulis dapat diterima dengan baik oleh pembaca secara utuh (tanpa perubahan makna).

Kaidah penulisan tanda baca penting untuk dipelajari agar dapat dimengerti oleh penulis maupun pembaca. Apabila terjadi perbedaan dalam memahami tanda baca, maka akan berakibat pada perubahan makna tulisan, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara maksud yang disampaikan dan diterima.

  • Imbuhan dan Kata Hubung

Masih sering dijumpai penggunaan imbuhan dan kata hubung yang belum sesuai dengan kaidah penulisan. Imbuhan adalah kata yang ditambahkan pada kata lain, baik di awal, tengah, maupun akhir dengan tujuan untuk membentuk kata baru. Imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang mendahului atau mengikutinya. Contoh kata imbuhan adalah di-, ber-, ter-, ke-, se-, per-, dan pen-.

Sementara kata hubung atau konjungsi adalah kata yang digunakan untuk menghubungkan kata, frasa, atau kalimat yang sederajat. Konjungsi ditulis terpisah dengan kata yang mendahului atau mengikuti. Contoh konjungsi adalah dan, di, ke, tetapi, namun, padahal, dan beberapa kata lain yang sejenis.

Contoh penggunaan imbuhan dan kata hubung yang sering tertukar adalah pada kata ‘di’. Imbuhan ‘di-’ mengartikan dibuat, dilakukan, diberi, dan lain-lain. Misalnya ‘di-’ pada kata ‘disambal’ berarti dibuat sambal, ‘di-’ pada kata ‘dicat’ berarti diberi cat. Sementara kata hubung ‘di’ menunjukkan tempat.

  • Tata Kalimat

Jika kata baku, tanda baca, imbuhan, dan konjungsi sudah sesuai dengan kaidah penulisan, yang harus diperhatikan selanjutnya adalah tata kalimat. Usahakan menulis dengan kalimat yang efisien dan mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, perhatikan juga penggunaan gaya bahasa berdasarkan jenis tulisan kalian. Jika keempat aspek tersebut sudah terpenuhi, maka tulisan kalian sudah layak untuk dibaca oleh banyak orang.

Leave a Comment