Sale!

Suara Muriel: Walet Merah dari Surabaya

Original price was: Rp65.000.Current price is: Rp63.500.

​Kisah ini mengikuti jalinan operasi rahasia dan spionase berdarah di tiga front: Front New Delhi & Singapura, Front Pelabuhan Probolinggo & Selat Bali, Front Udara (Propaganda): Muriel Stuart Walker (K’tut Tantri), seorang perempuan Skotlandia-Amerika yang dijuluki Walet Merah, menjadi corong revolusi melalui Radio Pemberontakan bersama Bung Tomo. Dihargai mahal oleh Belanda, Muriel terus menyiarkan manifesto kemerdekaan secara langsung bahkan saat studionya dihujani mortir dan digempur pasukan komando KNIL.

Description

Di tengah kecamuk Revolusi Kemerdekaan (1946–1949), Republik Indonesia yang baru lahir berada di ambang kehancuran. Militer Belanda (NICA) menerapkan blokade laut total untuk mengisolasi Indonesia dari dunia internasional, membiarkan logistik menipis, dan memaksa rakyatnya mati kelaparan agar menyerah. Namun, Perdana Menteri Sutan Sjahrir menolak tunduk. Ia merancang sebuah strategi perang asimetris yang jenius dan nekat: Diplomasi Beras. Di saat rakyatnya sendiri sedang kesulitan, Indonesia secara mengejutkan menawarkan bantuan 500.000 ton beras kepada India yang tengah dilanda bencana kelaparan Bengal.

​Kisah ini mengikuti jalinan operasi rahasia dan spionase berdarah di tiga front: Front New Delhi & Singapura, Front Pelabuhan Probolinggo & Selat Bali, Front Udara (Propaganda): Muriel Stuart Walker (K’tut Tantri), seorang perempuan Skotlandia-Amerika yang dijuluki Walet Merah, menjadi corong revolusi melalui Radio Pemberontakan bersama Bung Tomo. Dihargai mahal oleh Belanda, Muriel terus menyiarkan manifesto kemerdekaan secara langsung bahkan saat studionya dihujani mortir dan digempur pasukan komando KNIL.

​Langkah skakmat ini membuahkan hasil masal. Suara Muriel yang emosional dan lolosnya kapal-kapal beras memicu gelombang simpati global. Blokade moral Belanda runtuh total setelah India membalas budi secara instan dengan mengirimkan obat-obatan, serta mengundang Indonesia sebagai negara berdaulat dalam Asian Relations Conference. Diakhiri dengan reuni emosional antara Sjahrir, Bung Tomo, dan Muriel di Jakarta yang telah merdeka pada akhir tahun 1949, kisah ini menjadi catatan sejarah yang megah: bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya direbut dengan bambu runcing di parit pertempuran, melainkan dengan kecerdikan taktik pangan, ketangguhan spionase, dan keberanian sebuah suara asing yang mencintai Republik.

Surara Muriel:Walet Merah dari Surabaya

Penulis : Ilhamul Fajri
Editor : Salwatul ‘Ais Wasaylur Rizqiyyah
Layout : Syarifa Al Adawiyah
Cover : Pradina Anugrah

Diterbitkan dan Dicetak Oleh:
Cipta Media Nusantara (CMN), 2026
Anggota IKAPI: 270/JTI/2021

ISBN:
viii + 114 Halaman, 14 cm x 20 cm
Terbit Pertama Agustus 2026

Additional information

Weight0,3 kg
Dimensions20 × 14 × 2 cm

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Suara Muriel: Walet Merah dari Surabaya”