Membaca sering kali dipandang sebagai cara untuk mendapatkan informasi atau menghabiskan waktu luang. Padahal, membaca, khususnya membaca cerita atau karya fiksi, bisa jadi cara untuk memahami kehidupan. Dengan bacaan ini, pembaca bisa mengenal berbagai pengalaman, pemikiran, perasaan, dan cara pandang orang-orang berbeda dalam kehidupan mereka sendiri.
Menurut Mar, R. A., & Oatley, K. (2008), dalam penelitian mereka yang diterbitkan di jurnal Perspectives on Psychological Science, menyatakan bahwa novel atau karya fiksi bisa berperan sebagai cara untuk mensimulasikan dunia sosial. Cerita membantu pembaca memahami cara orang-orang berinteraksi dan mengalami hal-hal dalam kehidupan sosial, sehingga informasi sosial tersebut bisa dipahami melalui pengalaman yang dibangun dalam cerita itu.
Membaca membantu kita melihat kehidupan dari perspektif orang lain.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Perasaan dan pikiran seseorang mungkin berbeda dengan perasaan dan pikiran orang lain. Membaca membuka peluang bagi seseorang untuk mengenal berbagai perspektif tanpa perlu mengalami seluruh peristiwa tersebut secara langsung. Misalnya, saat membaca sebuah novel, pembaca bisa mengikuti kehidupan tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang, masalah, dan cara berpikir yang berbeda. Pembaca tidak hanya tahu apa yang dilakukan tokoh, tetapi juga diminta memahami alasan, konflik, dan perasaan yang menggerakkan tindakannya.
Mar, R. A., & Oatley, K. (2008) menjelaskan bahwa narasi fiksi dapat memberikan pengalaman simulasi tentang kehidupan sosial. Melalui pengalaman ini, pembaca memiliki kesempatan untuk memahami orang lain yang berbeda dari dirinya serta mengembangkan kemampuan dalam memahami situasi sosial. Dengan demikian, membaca tidak hanya memperkenalkan sebuah cerita, tetapi juga dapat memperluas cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Membaca dan Kemampuan Memahami Orang Lain
Kemampuan untuk memahami pikiran, perasaan, dan keadaan orang lain sering kali disebut sebagai bagian dari kognisi sosial. Kemampuan ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena manusia terus berinteraksi dengan orang lain. Penelitian yang dilakukan oleh Dodell-Feder, D., & Tamir, D. I. (2018) menganalisis 14 penelitian eksperimental dengan total 53 ukuran efek.
Hasil dari meta-analisis tersebut menunjukkan bahwa membaca fiksi memberikan peningkatan kecil tetapi signifikan pada kognisi sosial dibandingkan dengan kondisi membaca nonfiksi atau tidak membaca. Temuan ini menunjukkan bahwa membaca fiksi dapat berkontribusi pada pemahaman seseorang terhadap aspek-aspek sosial. Namun, hasil penelitian ini tidak menunjukkan bahwa setiap individu yang membaca novel secara otomatis akan lebih memahami orang lain. Pengaruhnya tergolong kecil dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana manfaat tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Cerita Membantu Kita Mengenal Emosi
Selain memahami perspektif, membaca cerita juga dapat melibatkan emosi pembaca. Ketika seseorang merasa terhubung dengan karakter atau terpengaruh oleh suasana cerita, pengalaman membaca dapat menjadi lebih mendalam. Hal ini terlihat dalam penelitian yang dilakukan Bal, P. M., & Veltkamp, M. (2013). Mereka melaksanakan dua eksperimen untuk mengeksplorasi hubungan antara membaca fiksi dan empati.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan empati pada pembaca berkaitan dengan tingkat keterlibatan emosional atau emotional transportation ke dalam cerita. Pada pembaca fiksi yang benar-benar terhanyut dalam cerita, ditemukan peningkatan empati dalam salah satu eksperimen. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman membaca tidak hanya terbatas pada pemahaman kata-kata. Tingkat keterlibatan emosional pembaca dalam cerita juga merupakan aspek penting dari pengalaman tersebut.
Buku Mempertemukan Kita dengan Beragam Pengalaman
Salah satu keuntungan dari membaca adalah kemampuannya untuk memperkenalkan pengalaman yang mungkin tidak pernah kita alami sendiri. Melalui buku sejarah, kita dapat mempelajari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Melalui biografi, kita dapat memahami perjalanan hidup seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan. Sementara itu, melalui novel dan cerita pendek, kita dapat mengikuti kehidupan karakter dengan berbagai masalah dan latar belakang.
Menurut pandangan Mar, R. A., & Oatley, K. (2008), narasi fiksi dapat berfungsi sebagai simulasi pengalaman sosial. Cerita menyederhanakan dan mengorganisir pengalaman sosial dalam bentuk yang dapat diikuti oleh pembaca. Dengan demikian, pembaca memiliki kesempatan untuk memahami berbagai situasi sosial melalui pengalaman naratif. Hal ini menjadikan buku lebih dari sekadar kumpulan tulisan. Buku dapat berfungsi sebagai ruang untuk mengenal kehidupan yang berada di luar pengalaman pribadi kita.
Membaca Tidak Selalu Memberikan Jawaban
Menarik untuk dicatat bahwa buku tidak selalu harus memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Terkadang, sebuah buku justru memicu pembaca untuk memiliki lebih banyak pertanyaan. Saat membaca kisah tentang seseorang yang menghadapi pilihan yang sulit, pembaca mungkin mulai bertanya: apa yang akan saya lakukan jika berada dalam situasi itu? Apakah keputusan yang diambil oleh tokoh tersebut benar? Mengapa seseorang bisa membuat keputusan yang berbeda dari saya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadikan kegiatan membaca sebagai proses berpikir. Pembaca tidak hanya menerima cerita, tetapi juga mengaitkannya dengan pengalaman dan pemikirannya sendiri. Gagasan ini sejalan dengan pandangan Mar, R. A., & Oatley, K. (2008) yang menyatakan bahwa fiksi dapat memberikan pengalaman simulasi mengenai dunia sosial. Melalui simulasi ini, pembaca dapat memproses dan memahami informasi sosial dengan cara yang lebih mendalam.
Membaca Dapat Membantu Kita Memahami Diri Sendiri
Memahami kehidupan tidak hanya berkaitan dengan memahami orang lain. Membaca juga dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan diri sendiri. Ketika menemukan tokoh yang memiliki ketakutan, harapan, kesalahan, atau masalah yang mirip dengan pengalaman pribadi, pembaca mungkin merasa bahwa cerita tersebut berhubungan dengan kehidupannya. Sebaliknya, ketika menemukan tokoh yang sangat berbeda, pembaca dapat menyadari bahwa terdapat banyak cara bagi manusia untuk menjalani kehidupan.
Penelitian Mar, R. A., & Oatley, K. (2008) juga menunjukkan bahwa pengalaman membaca fiksi dapat berhubungan dengan perubahan empati ketika pembaca merasakan keterlibatan emosional terhadap cerita. Dengan kata lain, pengalaman membaca dapat menjadi proses refleksi. Kita membaca kehidupan tokoh, kemudian secara tidak langsung membandingkannya dengan pengalaman, perasaan, dan pilihan kita sendiri.
Membaca Bukan Sekadar Menambah Pengetahuan
Membaca memang dapat meningkatkan pengetahuan, namun manfaatnya tidak terbatas pada itu. Buku juga dapat memperluas cara seseorang memahami manusia dan lingkungan sosialnya. Meta-analisis yang dilakukan oleh Dodell-Feder, D., & Tamir, D. I. (2018) menemukan adanya pengaruh positif yang kecil dari membaca fiksi terhadap kognisi sosial. Di sisi lain, Mar, R. A., & Oatley, K. (2008). memandang narasi sebagai bentuk simulasi pengalaman sosial, sementara Bal, P. M., & Veltkamp, M. (2013) menunjukkan bahwa keterlibatan emosional dalam membaca fiksi berkaitan dengan perubahan empati dalam penelitian mereka.
Ketiga penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa membaca adalah solusi untuk semua masalah kehidupan. Namun, penelitian-penelitian ini memberikan dasar untuk memahami mengapa membaca cerita dapat berhubungan dengan kemampuan memahami orang lain dan pengalaman sosial.
Membaca adalah aktivitas yang sederhana, tetapi pengalaman yang dihasilkannya dapat sangat luas. Melalui buku, kita dapat mengenal pemikiran yang berbeda, memahami pengalaman orang lain, merasakan berbagai emosi, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Penelitian mengenai fiksi dan kognisi sosial menunjukkan adanya hubungan antara pengalaman membaca fiksi dengan kemampuan sosial-kognitif, meskipun efek yang ditemukan relatif kecil. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa keterlibatan emosional dalam cerita dapat berperan dalam hubungan antara membaca fiksi dan empati.
Pada akhirnya, membaca bukan hanya sekadar menyelesaikan halaman demi halaman. Membaca juga dapat menjadi perjalanan untuk memahami dunia, memahami orang lain, dan pada saat yang sama memahami diri sendiri.
Sebab, terkadang kita membaca sebuah cerita untuk mengenal kehidupan orang lain, tetapi justru menemukan bagian dari kehidupan kita sendiri di dalamnya.
Referensi:
Bal, P. M., & Veltkamp, M. (2013). How does fiction Reading influence empathy? An experimental investigation on the role of emotional transportation. PLOS ONE, 8(1), e55341. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0055341
Dodell-Feder, D., & Tamir, D. I. (2018). Fiction reading has a small positive impact on social cognition: A meta-analysis. Journal of Experimental Psychology: General, 147(11), 1713–1727. https://doi.org/10.1037/xge0000395
Mar, R. A., & Oatley, K. (2008). The function of fiction is the abstraction and simulation of social experience. Perspectives on Psychological Science, 3(3), 173–192. https://doi.org/10.1111/j.1745-6924.2008.00073.x

