Mungkin setiap orang bisa menulis cerpen, tapi tidak semua tahu cara menulis cerpen yang baik. Apalagi bagi kalian yang masih awam dengan dunia tulis menulis. Membuat cerpen tidaklah seperti membuat artikel pada umumnya. Cerpen akan menghadirkan sebuah alur cerita seperti novel namun dikemas lebih ringkas.
Laelasari dan Nurlaila (2006:62) berpendapat bahwa cerita pendek (cerpen) adalah suatu karangan pendek yang berbentuk naratif atau cerita prosa yang mengisahkan kehidupan manusia yang penuh perselisihan, mengharukan, maupun menggembirakan. Menulis cerpen merupakan sebuah keterampilan berbahasa dan bersastra yang memiliki beberapa manfaat, yakni sebagai ungkapan rasa, media kritik terhadap sebuah peristiwa, dan sebagai salah satu bentuk ekspresi.
Menulis cerpen melibatkan proses kreatif yang di dalamnya terdapat tahapan-tahapan yang akan melatih seseorang untuk berproses secara kreatif dalam mengolah ide dan menghasilkan sebuah cerpen. Tujuan menulis cerpen secara umum adalah untik mengembangkan kemampuan berbahasa, kepribadian, dan sosial seseorang. Berkaitan dengan hal tersebut, maka cerpen sangan memungkinkan dijadikanahan untuk membina dan menanamkan karakter dan kepribadian seseorang.
Banyak pengertian cerpen yang dikemukakan para ahli yang dapat didiskusikan. Mochtar Lubis (dalam Sutejo, 2009: 115) menyatakan bahwa cerita pendek itu memiliki parameter sebagai berikut. Pertama, ia harus mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, ia harus menimbulkan suatu hempasan dalam pikiran pembaca.
Ketiga, ia harus menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa pembaca merasa terharu oleh jalan cerita – karena itu, cerita pendek pertama-tama menarik perasaan haru kemudian menarik pikiran, Keempat, ia harus mengandung perincian dan insideninsiden yang dipilih dengan sengaja dan yang bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca. HB Jassin (dalam Sutejo, 2009: 115) mengatakan bahwa cerita pendek itu harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian. The Liang Gie dan Widyamartaya menyatakan cerita pendek itu merupakan cerita khayali berbentuk prosa yang pendek, biasanya di bawah 10.000 kata, bertujuan menghasilkan kesan kuat dan mengandung unsur-unsur drama.
Menurut Mohammad Diponegoro cerita pendek itu begini (memenuhi syarat-syarat berikut). Pertama, harus pendek. Seberapa? Sekali duduk, antre karcis, dan menunggu teman misalnya. Kedua, cerpen itu mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Ketiga, cerita pendek harus ketat dan padat. Keempat, cerita pendek harus meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi. Adapun persyaratan kelima. cerpen itu harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda.
Dalam melahirkan cerpen, ada beberapa pengalaman unik dari para cerpenis. Ada yang diilhami oleh cerpen karya orang lain, ada yang karena intensif mengamati realita, ada yang karena pengalaman masa lalu yang kelam dan menegangkan, ada yang karena terinspirasi setelah mendengar musik, menonton film, ada yang karena murni berkhayal. Pengalaman berbeda-beda itu, tentunya menjadi sangat penting sebagai bahan pijakan seorang guru dalam mendampingi pembelajaran menulis cerpen di sekolah. Ada baiknya kita juga mengenali bagaimana cerpenis menulis. Beni Setia misalnya, seringkali menulis cerpen karena mengamati realita sosial. Bahkan, ketika buntu tidak punya ide – dalam suatu kesempatan- dia naik bus, kemudian bus kota, sampai dia menemukan bahan yang menarik untuk dituliskan.
Beberapa contoh pengalaman cerpenis itu, menjadi suatu hal yang menarik dipikirkan para guru sebagai inspirasi pembelajarannya. Guru sastra yang baik, idealnya adalah guru sastra yang mampu berkarya. Bagaimanapun, seorang yang punya pengalaman menulis cerpen akan lebih baik daripada mereka yang tak punya pengalaman menulis cerpen. Menulis cerpen, hakikatnya memiliki unsur pembangun fiksi yang tetap, yaitu: (1) tema, (2) plot, (3) setting, (4) tokoh dan penokohan, (5) point of view, dan (6) bahasa dan style. Unsur ini hakikatnya merupakan unsur intrinsik sebuah fiksi. Di samping itu, masih ada unsur lain, yakni unsur ekstrinsik, yang mencakupi: (1) pendidikan, (2) sosial budaya, (3) sosial masyarakat, (4) politik, (5) ekonomi, (6) adat, dan seterusnya.
Pembelajaran menulis cerita pendek (cerpen) penting bagi siswa, karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menurut Widyamartaya (2005:102) menulis cerpen ialah menulis tentang sebauh peristiwa atau kejadian pokok. Selain iut, menurut Widyamartaya (2005: 96) menulis cerpen merupakan dunia alternatif pengarang. Sedangkan Sumardjo (2001:84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita. Berdasarkan tiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis cerpen merupakan, seni/keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan sebagai dunia alternatif pengarang.
Teknik Pembelajaran Menulis Cerpen
Bila kita cermati berbagai tulisan, terdapat berbagai teknik kreatif pembelajaran cerpen. Seperti yang diungkapkan oleh Sutejo dalam bukunya Teknik Kreativitas Pembelajaran (2009), ada beberapa teknik yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran menulis cerpen.
Di antara teknik yang ditawarkan sebagai berikut.
1. Teknik N3 (niteni, nirokne, nambahi)
2. Teknik Pemodelan (Epigonal)
3. Teknik Lengkapi Cerpen
4. Teknik Bercerita
5. Teknik Reflektif (Empatif)
6. Teknik Panggil Pengalaman
7. Teknik Ubah Diary
8. Teknik Ubah Puisi
9. Teknik Kaguman
10. Teknik Foto Berita
11. Teknik Musikal
12. Teknik Outbond
Senada dengan teknik N3, Hamdan Nugroho mengemukakan teknik pembelajaran menulis cerpen dengan metode 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan). Sesuai dengan namanya, tahapan dalam strategi 3M adalah tahapan meniru, mengolah, lalu mengembangkan dari cerpen yang telah ada (Nugroho, 2009: ). Adapun Susi Budi Utami dalam penelitiannya, mengatakan bahwa strategi domino dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa pada tahap pemilihan dan pengembangan tema, tokoh, alur, latar, dan sudut pandang. Di samping itu, strategi domino mampu menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa dan dapat memotivasi siswa untuk belajar menulis cerpen (Utami, 2009).
Teknik Lengkapi Cerpen
Teknik lengkapi cerpen ini hakikatnya adalah “teknik menyelesaikan” cerpen. Karena itu, secara sederhana teknik ini menyarankan kepada kita agar kita mampu mengisi bagian-bagian kosong (yang dikosongkan). Teknik ini merupakan latihan mendasar mengawali cerpen, mengisi isi cerpen, sampai bagaimana mengakhiri cerpen yang menarik. Di samping itu, teknik ini juga melatihkan agar secara kreatif kita dapat menyesuaikan secara cepat dengan gaya cerpen yang dirumpangkan.
Langkah-langkah yang dapat dimanfaatkan dalam teknik ini sebagai berikut: (a) menghilangkan beberapa paragraf awal kemudian mengisinya dengan ungkapan alinea berbeda tapi semakna, (b) menghilangkan paragraf-paragraf yang merupakan isi cerpen kemudian mengisinya dengan ungkapan alinea berbeda tapi semakna (c) menghilangkan paragraf-paragraf terakhir kemudian mengisinya dengan paragraf yang berbeda tapi semakna, dan (d) mengedit ulang apakah pengisian paragraf-paragraf rumpang itu secara totalitas makna sudah padu.
Langkah pertama ini mengingatkan akan pentingnya mengawali sebuah cerpen yang menarik. Dengan melatih aneka variasi cerpen dengan menghilangkan bagian awal (paragraf-paragraf awal) akan menajamkan siswa dalam memikat pembaca di alinea-alinea awal dalam penulisan cerpen. Pengisian dengan bahasa yang berbeda ini pada sisi yang berbeda. Langkah kedua mengingatkan kita akan pentingnya mengolah isi cerpen dengan kalimat dan paragraf yang padat, memikat, dan fungsional.
Dengan melatih aneka variasi cerpen dengan menghilangkan bagian tengah cerpen akan menajamkan penguasaan kita akan pentingnya mengolah isi (content) cerpen secara substansial. Ketajaman kita dalam berlatih mengisi bagian isi cerpen, relatif sulit jika dibandingkan dengan mengawali dan atau mengakhiri cerpen. Sedangkan langkah ketiga mengingatkan akan pentingnya mengakhiri sebuah cerpen yang menarik. Dengan melatih aneka variasi cerpen dengan menghilangkan bagian akhir (alinea-alinea akhir) akan menajamkan penguasaan kita dalam memikat pembaca di alinea akhir dalam penulisan cerpen. Pengisian dengan bahasa yang berbeda ini, pada sisi berbeda, akan melatihkan juga kemampuan ”parafrase yang padat”.
Dengan begitu, kita akan secara lengkap berlatih dari mengawali cerpen, mengemasi cerpen, sampai bagaimana mengakhiri sebuah cerpen sesuai denganm model yang dinilai menarik. Langkah keempat penting dilakukan untuk mengorganisasi keutuhan kembali sebuah cerpen setelah dirumpangkan. Pada langkah terakhir ini tentunya akan menjawab pertanyaan “Bagaimana isi secara keseluruhan?”, “Berubahkah dari cerpen aslinya?”, “Bagaimana jika perubahannya besar, bahkan dinilai menyimpang?”
Dalam aplikasi perumpangan dengan lengkapi cerpen ini, dibutuhkan hal-hal berikut ini: (a) contoh-contoh dan model-model cerpen yang representatif sesuai dengan jenis dan aliran, (b) kreatif merumpangkan bagian-bagian cerpen yang dinilai fundamental secara estetis, dan (c) mendorong kreasi untuk mengisi (melengkapi) dengan berbagai panduan tiruan, imajinatif, dan kreatif.

