Banyak penulis berpikir bahwa skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian bisa langsung diterbitkan menjadi buku. Padahal, naskah ilmiah dan naskah buku memiliki tujuan serta gaya penyajian yang berbeda. Jika naskah masih mempertahankan format laporan ilmiah, kemungkinan besar pembaca akan merasa kesulitan mengikuti isi buku.
Buku ditujukan untuk menyampaikan informasi secara runtut, menarik, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, sebelum mengajukan naskah ke penerbit, pastikan naskah Anda tidak lagi terlihat seperti laporan ilmiah mentah. Berikut lima tanda yang perlu diperhatikan.
1. Bahasa Terlalu Kaku dan Penuh Istilah Teknis
Laporan ilmiah umumnya menggunakan bahasa formal dan istilah teknis yang ditujukan untuk kalangan akademisi. Sebaliknya, buku ditulis agar dapat dipahami oleh pembaca yang lebih luas. Jika setiap paragraf dipenuhi istilah yang sulit dipahami tanpa penjelasan, naskah sebaiknya disederhanakan terlebih dahulu. Bahasa yang lebih komunikatif akan membuat pembaca lebih mudah memahami isi buku.
Contoh: Kalimat seperti “Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara variabel X dan Y berdasarkan uji regresi linear berganda” bisa terasa terlalu berat bagi pembaca umum. Dalam buku, kalimat tersebut dapat diubah menjadi “Penelitian ini menunjukkan bahwa dua faktor yang diteliti saling berhubungan dan memengaruhi hasil akhir secara cukup kuat.”
2. Struktur Masih Mengikuti Format Penelitian
Apakah naskah Anda masih berisi bab seperti Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Hasil, dan Pembahasan? Jika ya, kemungkinan besar naskah tersebut masih menyerupai laporan penelitian. Dalam buku, isi dapat disusun berdasarkan tema atau alur pembahasan sehingga lebih nyaman dibaca. Hasil penelitian tetap dapat digunakan sebagai dasar pembahasan, tetapi penyajiannya perlu disesuaikan dengan karakter buku.
Contoh: Jika dalam skripsi Anda ada bab Metode Penelitian, bagian itu tidak harus ditampilkan secara lengkap dalam buku. Sebagai gantinya, Anda bisa menulis bagian seperti “Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan” atau “Langkah-Langkah yang Saya Temukan di Lapangan” agar lebih ringan dan enak dibaca.
3. Terlalu Banyak Kutipan Langsung
Kutipan memang penting untuk memperkuat isi, tetapi jumlah yang berlebihan justru membuat buku terasa seperti karya akademik. Sebaiknya gunakan kutipan seperlunya, kemudian jelaskan kembali dengan bahasa sendiri agar pembaca lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan.
Contoh: Alih-alih menulis beberapa paragraf penuh kutipan dari para ahli, Anda bisa menuliskannya seperti ini: “Menurut beberapa pakar, kebiasaan membaca sejak dini sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir anak. Artinya, semakin sering anak berinteraksi dengan buku, semakin besar pula peluangnya untuk berkembang secara kognitif.” Dengan cara ini, kutipan tetap ada, tetapi pembahasan terasa lebih mengalir.
4. Pembahasan Terlalu Berfokus pada Data
Data, tabel, dan hasil analisis merupakan bagian penting dalam penelitian. Namun, pembaca buku biasanya lebih membutuhkan penjelasan mengenai makna data tersebut, bukan hanya angka atau hasil statistik. Cobalah menjelaskan apa arti temuan tersebut, mengapa penting, dan bagaimana manfaatnya dalam kehidupan atau praktik di lapangan. Dengan begitu, isi buku akan terasa lebih hidup dan relevan.
Contoh: Jika hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% responden memilih metode belajar tertentu, jangan hanya menuliskan angka tersebut. Tambahkan penjelasan seperti: “Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa metode belajar tersebut lebih mudah dipahami dan membantu mereka belajar lebih cepat.” Penjelasan seperti ini membuat data lebih bermakna bagi pembaca.
5. Tidak Memiliki Gaya Bertutur yang Mengajak Pembaca
Salah satu ciri buku yang menarik adalah adanya komunikasi antara penulis dan pembaca. Penulis dapat menggunakan contoh sederhana, ilustrasi, studi kasus, atau pertanyaan yang mengajak pembaca berpikir. Sebaliknya, laporan ilmiah cenderung bersifat objektif dan hanya berfokus pada penyajian hasil penelitian. Oleh karena itu, ubahlah penyampaian naskah agar terasa lebih mengalir tanpa mengurangi keakuratan informasi.
Contoh: Daripada menulis secara datar, “Penting untuk menjaga konsistensi dalam proses belajar,” Anda bisa menulis, “Pernahkah Anda merasa semangat belajar di awal, tetapi kemudian menurun di tengah jalan? Inilah alasan mengapa konsistensi sangat penting agar hasil belajar tetap maksimal.” Gaya seperti ini membuat pembaca merasa lebih dekat dengan isi buku.
Bagaimana Mengubah Laporan Ilmiah Menjadi Buku?
Mengubah laporan ilmiah menjadi buku bukan berarti menghilangkan nilai ilmiahnya. Justru, informasi yang telah diperoleh dari penelitian dapat disajikan dengan bahasa yang lebih sederhana, struktur yang lebih runtut, dan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan pembaca. Fokuslah pada manfaat informasi, bukan pada proses penelitian. Dengan demikian, buku tidak hanya bermanfaat bagi kalangan akademisi, tetapi juga dapat menjangkau pembaca yang lebih luas. Misalnya, jika Anda menulis buku dari hasil penelitian tentang pendidikan karakter, jangan hanya menjelaskan teori dan metode penelitian. Tambahkan contoh penerapan di sekolah, cerita singkat dari lapangan, atau tips praktis yang bisa langsung digunakan oleh guru dan orang tua.
Laporan ilmiah dan buku memiliki fungsi yang berbeda. Laporan ilmiah bertujuan mendokumentasikan hasil penelitian secara sistematis, sedangkan buku bertujuan menyampaikan pengetahuan agar mudah dipahami oleh pembaca. Sebelum menerbitkan naskah, pastikan bahasa, struktur, dan penyajiannya telah disesuaikan sehingga tidak lagi menyerupai laporan ilmiah mentah.
Jika Anda ingin mengubah skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, atau naskah akademik menjadi buku yang lebih menarik dan layak terbit, Cipta Publishing siap membantu. Mulai dari penyuntingan naskah, penyesuaian struktur, layout profesional, pengurusan ISBN, hingga desain sampul, seluruh proses dilakukan oleh tim yang berpengalaman. Kunjungi website resmi https://ciptapublishing.id/ untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai layanan penerbitan buku dan konsultasikan naskah Anda bersama tim kami.
Referensi:
Faaizah, N. (2023). Artikel Ilmiah Populer: Pengertian, Ciri, dan Beda dengan Artikel Ilmiah. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7041882/artikel-ilmiah-populer-pengertian-ciri-dan-beda-dengan-artikel-ilmiah.
Prasetiya Mulya Publishing. (2024). Perbedaan Karya Ilmiah dengan Ilmiah Populer: Cek Ciri-Cirinya. https://www.prasetiyamulya.ac.id/office/publishing/perbedaan-karya-ilmiah-dengan-ilmiah-populer-cek-ciri-cirinya/.

