Kamu Yakin Tulisanmu Sudah Benar? Coba Cek 7 Hal Ini

Apakah Anda pernah merasa bahwa tulisan Anda sudah benar hanya karena tidak menemukan kesalahan saat membacanya sekali?

Hati-hati untuk tidak terlalu cepat merasa yakin. Tulisan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh adanya atau tidaknya kesalahan ketik. Ejaan, pemilihan kata, struktur kalimat, kejelasan ide, dan penggunaan tanda baca juga harus diperiksa. Bahkan, sebuah tulisan bisa tampak rapi tetapi masih memiliki masalah dalam penggunaan bahasa.

Sebelum tulisan diserahkan, dikirim, atau dipublikasikan, coba periksa tujuh hal berikut.

  1. Periksa penulisan kata

Hal pertama yang harus diperiksa adalah cara penulisan kata. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak membedakan penulisan kata depan dan imbuhan. Contohnya, di sebagai kata depan ditulis terpisah, sedangkan di- sebagai imbuhan ditulis serangkai.

Perhatikan contoh berikut:

  1. Saya belajar di rumah.
  2. Buku itu dibaca oleh Rina.

Pada contoh pertama, di berfungsi sebagai kata depan. Sedangkan pada contoh kedua, di- berfungsi sebagai imbuhan. Kesalahan semacam ini mungkin tampak sepele, tetapi jika terjadi berulang kali, kualitas tulisan akan terpengaruh. Oleh karena itu, penulisan kata harus diperiksa sesuai dengan kaidah ejaan, bukan hanya berdasarkan kebiasaan (Sriyanto, 2019).

Cobalah bertanya pada diri sendiri: “Apakah kata-kata dalam tulisan ini sudah ditulis sesuai dengan kaidah?”

Jika masih merasa ragu, jangan langsung menganggapnya benar. Periksa kembali pedoman ejaan.

  1. Periksa Pilihan Kata

Tulisan yang baik memerlukan pemilihan kata yang tepat. Memilih kata bukan hanya sekadar mencari kata yang terdengar menarik. Kata yang digunakan harus sesuai dengan makna yang ingin disampaikan serta konteks tulisan. Ruddyanto et al. (2001) menjelaskan bahwa pembahasan mengenai bentuk dan pilihan kata berkaitan dengan pemilihan kata, pembentukan kata, serta penggunaan kata dan ungkapan yang layak dan tepat.

Sebagai contoh, dalam tulisan formal, hindarilah penggunaan kata atau ungkapan yang terlalu santai jika tidak sesuai dengan tujuan tulisan.

Bandingkan:

“Penelitian ini membahas masalah yang cukup rumit.”

dengan:

“Penelitian ini membahas masalah yang cukup kompleks.”

Keduanya dapat dipahami, tetapi pemilihan kata harus disesuaikan dengan konteks dan tujuan komunikasi. Oleh karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah kata ini benar?”

Tanyakan juga:

“Apakah kata ini tepat untuk menyampaikan maksud saya?”

  1. Periksa Penggunaan Huruf Kapital

Selanjutnya, periksa penggunaan huruf kapital. Huruf kapital memiliki aturan penggunaannya sendiri. Kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan huruf kapital yang berlebihan atau justru menghilangkannya pada bagian yang seharusnya menggunakan huruf kapital.

Contohnya:

  1. Saya tinggal di Surabaya.
  2. Nama geografis seperti Surabaya harus ditulis dengan huruf kapital.
  3. Sebaliknya, tidak semua kata yang dianggap penting harus diawali dengan huruf kapital.

Oleh karena itu, jangan menggunakan huruf kapital berdasarkan selera visual. Penggunaannya harus mengikuti kaidah ejaan (Sriyanto, 2019). Saat melakukan pemeriksaan, perhatikan terutama:

  1. awal kalimat;
  2. nama orang;
  3. nama tempat atau unsur nama geografis;
  4. nama lembaga;
  5. judul atau unsur lain yang memiliki aturan kapitalisasi tertentu.

Intinya: huruf kapital digunakan berdasarkan aturan, bukan karena sebuah kata dianggap penting.

  1. Periksa Tanda Baca

Apakah Anda pernah membaca kalimat yang sangat panjang dan sulit dipahami? Mungkin masalahnya bukan hanya terletak pada panjang kalimat, tetapi juga pada penggunaan tanda baca. Tanda baca berfungsi untuk menunjukkan hubungan dan batas antara elemen-elemen dalam tulisan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan penggunaan tanda titik, koma, titik dua, tanda tanya, tanda seru, tanda petik, dan tanda baca lainnya (Sriyanto, 2019).

Contohnya:

“Setelah membaca laporan tersebut, saya segera memperbaikinya.”

Kalimat ini dapat diperiksa kembali penggunaan tanda bacanya, terutama ketika bagian awal kalimat berfungsi sebagai keterangan. Jangan hanya memastikan bahwa setiap paragraf memiliki titik. Periksa juga tanda baca di dalam kalimat.

Cobalah untuk memeriksa:

  1. Apakah koma digunakan pada tempat yang tepat?
  2. Apakah kalimat tanya diakhiri dengan tanda tanya?
  3. Apakah kutipan menggunakan tanda petik dengan benar?
  4. Apakah penggunaan tanda baca konsisten?
  5. Apakah ada kalimat yang sulit dipahami karena penggunaan tanda baca yang tidak tepat?

Penggunaan tanda baca yang benar dapat membantu pembaca memahami struktur tulisan dengan lebih baik.

  1. Periksa Keefektifan Kalimat

Kalimat yang panjang tidak selalu berarti kalimat yang baik. Sebuah kalimat harus disusun sedemikian rupa sehingga gagasan yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan jelas. Oleh karena itu, setelah selesai menulis, periksalah apakah ada kata yang tidak perlu, pengulangan yang berlebihan, atau susunan kalimat yang menyulitkan pembaca dalam memahami maksudnya (Sasangka, 2019; Widiastuti, 1995).

Perhatikan contoh berikut:

“Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan, kami akan melakukan berbagai upaya perbaikan.”

Kalimat ini dapat disederhanakan menjadi:

“Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, kami akan melakukan berbagai upaya perbaikan.”

Versi kedua lebih ringkas tanpa menghilangkan gagasan utamanya.

Saat menyunting kalimat, tanyakanlah:

Apakah ada kata yang sebenarnya tidak diperlukan?

Jika jawabannya ya, pertimbangkan untuk menghapusnya. Menurut Sasangka (2019), analisis kalimat meliputi elemen-elemen yang membentuk kalimat serta hubungan fungsi dan perannya. Di sisi lain, Widiastuti (1995) mengumpulkan berbagai pembahasan tentang konsep dan karakteristik kalimat efektif dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, penyuntingan kalimat tidak hanya bertujuan untuk memperpendek tulisan, tetapi juga untuk memperjelas struktur dan maksudnya.

  1. Periksa hubungan antargagasan

Kesalahan dalam tulisan tidak selalu berupa kesalahan dalam ejaan. Terkadang, semua kata ditulis dengan benar, tanda baca digunakan dengan tepat, tetapi alur pemikirannya tetap membingungkan. Contohnya, sebuah paragraf yang dimulai dengan membahas penyebab suatu masalah, kemudian tiba-tiba beralih ke solusi, lalu berpindah ke topik lain tanpa adanya hubungan yang jelas.

Secara tata tulis, hal ini mungkin tidak tampak bermasalah. Namun, pembaca akan mengalami kesulitan dalam mengikuti gagasan yang disampaikan. Oleh karena itu, penting untuk memeriksa hubungan antarkalimat dan antarbagian dalam tulisan.

Ajukan pertanyaan:

  1. Apa gagasan utama dari paragraf ini?
  2. Apakah setiap kalimat mendukung gagasan tersebut?
  3. Apakah urutan gagasannya logis?
  4. Apakah ada gagasan yang muncul secara tiba-tiba?
  5. Apakah hubungan antara satu kalimat dan kalimat berikutnya jelas?

Sasangka (2019) mengindikasikan bahwa kalimat dapat dianalisis berdasarkan kategori, fungsi, dan peran dari unsur-unsurnya. Memahami struktur ini membantu penulis untuk melihat bagaimana unsur-unsur dalam kalimat saling berinteraksi. Oleh karena itu, jangan hanya membaca tulisan untuk mencari “kesalahan kata”. Bacalah juga untuk menilai apakah gagasannya logis.

  1. Bacalah kembali dan lakukan penyuntingan terakhir

Setelah semua selesai, jangan terburu-buru untuk mengatakan:

“Sudah, selesai.”

Lakukan satu pemeriksaan terakhir. Bacalah tulisan dari awal hingga akhir sebagai seorang pembaca, bukan sebagai penulis. Perhatikan bagian-bagian yang terasa aneh, terlalu panjang, berulang, atau sulit dipahami. Jika memungkinkan, bacalah dengan suara pelan. Metode ini dapat membantu dalam menemukan kalimat yang terasa tidak alami atau terlalu rumit.

Pemeriksaan akhir juga sangat penting karena penulis sering kali sudah terlalu akrab dengan tulisannya sendiri. Akibatnya, kesalahan yang telah dilihat berkali-kali bisa saja terlewatkan. Dalam konteks kalimat efektif, Widiastuti (1995) menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kalimat efektif tidak hanya berkaitan dengan satu aspek, tetapi mencakup berbagai pandangan tentang bagaimana kalimat yang baik dan efektif seharusnya disusun.

Sementara itu, Sasangka (2019) memberikan penjelasan mengenai struktur kalimat dan unsur-unsur yang menyusunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan terakhir sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesalahan ketik, tetapi juga memperhatikan kejelasan keseluruhan tulisan.

Referensi:

Ruddyanto, C., Burhanuddin, E., Danardana, A. S., Haryanto, H., & Qodratillah, M. T. (2001). Bahan penyuluhan Bahasa Indonesia: Bentuk dan pilihan kata. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Sasangka, S. S. T. W. (2019). Kalimat: Seri penyuluhan bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Sriyanto. (2019). Ejaan: Buku seri penyuluhan bahasa Indonesia. Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Widiastuti, U. (1995). Panduan pustaka: Kalimat efektif bahasa Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Leave a Comment