Ada masalah yang agak aneh dengan AI. Semakin bagus alatnya, semakin mudah semua orang terdengar sama. Kalimatnya masuk akal dan kedengarannya benar. Tapi justru di situlah masalahnya.
Tulisan yang “benar” belum tentu berkesan. Pembaca mungkin selesai membaca tanpa ingat siapa yang menulisnya. Bagi penulis, tantangannya sekarang bukan sekadar menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi menjaga agar tulisan tetap punya suara yang terasa manusiawi, bahkan ketika AI ikut membantu prosesnya.
Mengapa Tulisan AI Mudah Terdengar Mirip?
AI memang bisa membantu penulis bekerja lebih cepat. Masalahnya muncul ketika kita terlalu mudah menerima hasil pertamanya. Kalau banyak orang memberikan instruksi yang mirip, menggunakan model yang sama, lalu menerima struktur yang sama, hasil akhirnya bisa terasa seperti ditulis oleh orang yang sama.
Dan ini bukan berarti AI harus dihindari. Justru sebaliknya. AI bisa sangat berguna untuk mencari ide, merapikan tulisan, atau membantu melihat sudut pandang yang terlewat. Yang perlu dijaga adalah suara penulisnya.
AI Tidak Punya Pengalaman Anda
AI punya akses ke banyak informasi. Tapi AI tidak menjalani hidup Anda.
Ia tidak pernah ikut rapat yang berantakan dengan klien. Tidak pernah menghadapi pelanggan yang tiba-tiba komplain. Tidak pernah duduk di kantor sampai malam untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya bisa selesai sejak pagi.
Pengalaman seperti itulah yang membuat tulisan terasa spesifik.
Misalnya, sebuah artikel tentang mengelola bisnis keluarga bisa terdengar jauh lebih hidup ketika penulis memasukkan pengalaman mengurus keputusan di sebuah family office, dibanding sekadar menjelaskan definisinya dari sumber umum. Detail kecil membuat perbedaan besar.
Jangan Serahkan Sudut Pandang ke AI
AI bisa membantu menemukan topik. Ia juga bisa memberi beberapa alternatif sudut pandang. Namun, memilih apa yang benar-benar ingin Anda katakan tetap menjadi pekerjaan penulis.
Ini bagian yang sering dilewatkan.
Kalau AI yang menentukan argumen, contoh, gaya, sampai kesimpulan, tulisan Anda perlahan kehilangan karakter. Secara teknis mungkin bagus. Tetapi pembaca tidak punya banyak alasan untuk mengingatnya.
Coba mulai dari pendapat Anda sendiri. Baru gunakan AI untuk membantu mengembangkannya.
Tulis Sesuatu yang Hanya Anda Bisa Tulis
Salah satu cara paling sederhana untuk mempertahankan suara adalah memasukkan hal yang tidak bisa ditemukan lewat pencarian biasa.
Cerita dari pengalaman sendiri. Pendapat yang terbentuk setelah bertahun-tahun bekerja. Kesalahan yang pernah dibuat. Bahkan contoh kecil dari percakapan dengan pelanggan.
Itu semua membuat tulisan lebih sulit ditiru. AI bisa membantu menyusun kata-katanya. Tetapi bahan mentahnya harus datang dari Anda.
Jadi, Apa yang Membuat Tulisan Anda Tetap Berbeda Dibanding Tulisan AI?
AI sudah menjadi bagian dari cara banyak orang bekerja. Di Indonesia, 92% knowledge workers dilaporkan sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan mereka, menurut Microsoft. Angka ini menunjukkan jika AI sudah menjadi go-to tools untuk mayoritas pekerja, termasuk penulis (Microsoft, 2024).
Jadi, pembeda seorang penulis mungkin memang harus dicari di tempat lain.
1. Masukkan Pengalaman yang Spesifik
Tulisan yang terlalu umum mudah dibuat ulang oleh AI. Pengalaman pribadi jauh lebih sulit.
Daripada menulis, “Mengelola bisnis membutuhkan komunikasi yang baik,” ceritakan bagaimana sebuah keputusan benar-benar dibuat. Siapa yang terlibat? Apa yang salah? Apa yang akhirnya berhasil? Detail seperti ini membuat tulisan punya identitas.
2. Jangan Takut Punya Pendapat
AI cenderung aman. Penulis tidak harus begitu. Kalau Anda punya pendapat yang kuat, sampaikan. Kalau ada praktik yang menurut Anda tidak masuk akal, jelaskan alasannya. Tulisan yang punya sudut pandang biasanya terasa lebih hidup daripada tulisan yang berusaha menyenangkan semua orang.
3. Gunakan AI untuk Membantu, Bukan Menggantikan
Ada alasan mengapa AI semakin sering masuk ke proses pembuatan konten. Dalam survei Ahrefs terhadap 879 marketer, 87% mengatakan mereka menggunakan AI untuk membantu membuat konten (Ahrefs, 2025).
Menariknya, hanya menggunakan AI tidak otomatis berarti menyerahkan seluruh proses penulisan kepadanya.
Gunakan AI untuk membuat outline. Minta alternatif judul. Cari sudut pandang yang mungkin belum terpikirkan. Setelah itu, kembali ke tulisan Anda sendiri.
4. Biarkan Tulisan Terdengar Seperti Anda
Tidak semua kalimat harus sempurna. Tidak semua paragraf harus terdengar formal. Kalau Anda biasa menulis pendek, tulis pendek. Kalau Anda punya cara tertentu dalam menjelaskan sesuatu, pertahankan.
Suara penulis terbentuk dari pilihan-pilihan kecil.
Dan semakin banyak orang menggunakan AI, semakin penting pilihan tersebut. Ahrefs bahkan menemukan bahwa 74% halaman web baru yang mereka analisis mengandung setidaknya sebagian konten yang dihasilkan AI (Ahrefs, 2025)
Artinya, pembaca kemungkinan akan semakin sering menemukan tulisan yang terasa familiar.
Tulisan Tetap Punya “Pemilik”nya Sendiri
Mungkin pertanyaannya memang bukan apakah penulis harus menggunakan AI atau tidak. Teknologi akan terus berubah, dan cara kita bekerja juga ikut berubah. Yang lebih penting adalah tetap tahu kenapa kita menulis sesuatu.
Sebuah tulisan bisa menyampaikan informasi yang sama dengan seribu tulisan lain. Namun pilihan cerita, cara melihat masalah, dan hal-hal yang dianggap penting bisa membuatnya terasa berbeda.
AI bisa memang jago membantu menghasilkan teks. Tapi tulisan yang punya alasan untuk ada tetap membutuhkan seseorang di belakangnya. Dan itulah bagian yang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada sebuah alat.
Referensi
- Ahrefs. “Marketers Using AI Publish 42% More Content.” Data dari survei terhadap 879 marketer mengenai penggunaan AI dalam pembuatan konten.
https://ahrefs.com/blog/marketers-using-ai-publish-more-content/ - Ahrefs. “What Percentage of New Content Is AI-Generated?” Analisis terhadap lebih dari 900.000 halaman web mengenai penggunaan konten yang dihasilkan AI.
https://ahrefs.com/blog/what-percentage-of-new-content-is-ai-generated/ - Microsoft Indonesia. “Microsoft dan LinkedIn Rilis Work Trend Index 2024.” Laporan mengenai penggunaan AI generatif di tempat kerja, termasuk data pekerja di Indonesia.
https://news.microsoft.com/id-id/2024/06/11/microsoft-and-linkedin-release-the-2024-work-trend-index-on-the-state-of-ai-at-work-in-indonesia/
Author: Arumka

