Kelihatannya Sepele, tapi Salah: Kesalahan Penulisan yang Sering Terjadi

Menulis bukan sekadar menyampaikan ide, tetapi juga berkaitan dengan cara penyampaian ide tersebut menggunakan bahasa yang tepat. Dalam praktiknya, masih banyak kesalahan penulisan yang sering dianggap sepele, mulai dari penggunaan huruf kapital, kata depan, kata baku, hingga tanda baca. Kesalahan kecil ini mungkin tidak selalu mengubah makna keseluruhan tulisan. Namun, jika kesalahan tersebut terjadi berulang kali, tulisan dapat terlihat kurang rapi dan membuat pembaca meragukan ketepatan penggunaan bahasanya.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap kaidah ejaan menjadi salah satu aspek penting dalam menghasilkan tulisan yang berkualitas. Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V, aturan ejaan bahasa Indonesia mencakup penggunaan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, serta penulisan unsur serapan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022).

  1. “di” Dipisah atau Disambung?

Salah satu kesalahan yang sangat umum ditemukan adalah penulisan kata di. Kata di yang berfungsi sebagai kata depan untuk menunjukkan tempat harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya:

  1. di rumah
  2. di sekolah
  3. di kantor
  4. di Surabaya

Sementara itu, di- yang berfungsi sebagai imbuhan pada kata kerja ditulis serangkai. Contohnya:

  1. dibaca
  2. ditulis
  3. dikerjakan
  4. diperbaiki

Dengan demikian, penulisan “dirumah” tidak tepat jika yang dimaksud adalah tempat. Bentuk yang benar adalah “di rumah”.

Perbedaan ini penting karena kata depan dan imbuhan memiliki fungsi yang berbeda dalam struktur bahasa Indonesia. Aturan mengenai penulisan kata depan dan imbuhan merupakan bagian dari kaidah penulisan kata dalam EYD V (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022).

  1. “Di mana” atau “Dimana”?

Kesalahan yang sering terjadi berkaitan dengan kata tanya adalah penulisan yang tidak tepat. Bentuk yang benar adalah:

✅ di mana.

❌ Dimana.

Demikian pula:

  1. di mana, bukan Dimana.
  2. ke mana, bukan kemana.
  3. dari mana, bukan darimana.

Kesalahan ini muncul karena kata depan sering dianggap sebagai bagian dari kata yang mengikutinya. Namun, ketika di, ke, dan dari berfungsi sebagai kata depan, penulisannya harus dipisahkan sesuai dengan kaidah ejaan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022).

  1. “Sekadar” atau “Sekedar”?

Kesalahan tidak hanya terjadi pada pemisahan kata, tetapi juga pada pemilihan bentuk kata yang baku. Salah satu contohnya adalah:

✅ sekadar

❌ sekedar

Kata sekadar adalah bentuk yang digunakan dalam bahasa Indonesia yang baku. Untuk memastikan apakah suatu kata merupakan bentuk baku, penulis dapat memeriksanya melalui KBBI Daring yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

KBBI Daring adalah salah satu sumber untuk mengetahui informasi mengenai kosakata bahasa Indonesia, termasuk bentuk kata dan maknanya (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2026). Oleh karena itu, ketika merasa ragu terhadap suatu kata, jangan hanya mengandalkan kebiasaan atau apa yang sering terlihat di media sosial. Periksa kembali di KBBI.

  1. “Nasihat” atau “Nasehat”?

Contoh lain yang sering dijumpai adalah kata:

✅ nasihat

❌ nasehat

Menurut KBBI Daring, nasihat adalah bentuk yang baku, sedangkan nasehat dianggap sebagai bentuk yang tidak baku (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2026). Kesalahan semacam ini menunjukkan bahwa kata yang terdengar akrab belum tentu merupakan bentuk yang baku. Oleh karena itu, penulis perlu membiasakan diri untuk memeriksa kata-kata yang diragukan sebelum menggunakannya dalam artikel, naskah buku, atau karya ilmiah.

  1. Penggunaan Huruf Kapital Harus Tepat

“Awal kata harus menggunakan huruf kapital.” Pernyataan ini tidak sepenuhnya akurat. Sebenarnya, huruf kapital digunakan pada posisi tertentu, tetapi tidak berarti setiap kata dalam kalimat harus diawali dengan huruf kapital. Penggunaannya mengikuti fungsi dan posisi kata tersebut.

Contohnya: Saya tinggal di Surabaya.

Nama geografis Surabaya ditulis dengan huruf kapital. Namun, kata umum seperti kota tidak secara otomatis ditulis dengan huruf kapital hanya karena berada di dekat nama tempat. Penggunaan huruf kapital adalah salah satu aspek yang diatur dalam EYD V. Pedoman ini memberikan aturan mengenai penggunaan huruf kapital dalam berbagai konteks penulisan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022).

  1. Tanda Koma Jangan Dianggap Sepele

Selain kata, tanda baca juga memainkan peran penting dalam tulisan. Perhatikan contoh berikut: Saya ingin pergi, tetapi hujan turun. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung tertentu, termasuk tetapi, saat menghubungkan bagian-bagian kalimat yang sesuai dengan ketentuan ejaan.

Kesalahan tanda baca dapat membuat struktur kalimat menjadi kurang jelas. Oleh karena itu, proofreading tidak hanya cukup dengan mencari salah ketik, tetapi juga perlu memperhatikan penggunaan tanda baca sesuai pedoman EYD V (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022).

  1. Typo dan Kesalahan Ejaan Itu Tidak Selalu Sama

Ketika menemukan tulisan yang salah, kita sering menyebut semuanya sebagai typo. Padahal, kesalahan mengetik dan kesalahan ejaan tidak selalu sama.

Misalnya, seseorang ingin menulis: “Saya pergi ke sekolah.” namun secara tidak sengaja mengetik: “Saya pergi ke sekolha.” Kesalahan tersebut dapat dikategorikan sebagai salah ketik.

Berbeda dengan: “Saya pergi kesekolah.”

Kesalahan pada contoh kedua berkaitan dengan penulisan kata depan ke yang seharusnya dipisahkan dari kata yang menunjukkan tempat. Artinya, proses proofreading bukan hanya mencari huruf yang tertukar. Penulis juga perlu memeriksa apakah penggunaan kata dan ejaannya sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

  1. Jangan Meremehkan Kesalahan Kecil

Kesalahan penulisan mungkin terlihat sederhana. Namun, tulisan yang baik membutuhkan ketelitian dari hal-hal kecil.

 

Checklist Sebelum Menerbitkan Tulisan

  1. Sebelum artikel atau naskah dipublikasikan, periksa beberapa hal berikut:
  2. Apakah penggunaan kata di, ke, dan dari sudah benar?
  3. Apakah huruf kapital telah digunakan sesuai dengan kaidah yang berlaku?
  4. Apakah kata-kata yang digunakan merupakan bentuk baku?
  5. Apakah tanda baca telah sesuai?
  6. Apakah masih terdapat kesalahan ketik?
  7. Apakah ada kata yang penulisannya masih meragukan?
  8. Apakah tulisan telah diperiksa secara menyeluruh?

Jika masih merasa ragu, jangan langsung berasumsi. Periksa EYD V untuk aturan ejaan dan KBBI Daring untuk memastikan bentuk kata. Kesalahan dalam penulisan mungkin terlihat sepele. Namun, perhatian terhadap detail kecil dapat membuat tulisan menjadi lebih teratur, jelas, dan profesional. Menjadi penulis yang baik tidak berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Sebaliknya, penulis yang baik adalah mereka yang bersedia memeriksa, memperbaiki, dan terus belajar.

Oleh karena itu, sebelum menerbitkan tulisan, jangan hanya bertanya, “Apakah isinya sudah menarik?” Tanyakan juga: “Apakah cara penulisannya sudah benar?”

Karena tulisan yang baik bukan hanya tentang apa yang ingin disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disampaikan dengan tepat. Satu kata yang salah mungkin tidak terlalu mengganggu. Akan tetapi, jika kesalahan tersebut muncul berkali-kali dalam sebuah artikel atau naskah, kualitas tulisan secara keseluruhan dapat ikut terpengaruh.

Karena itu, penulis sebaiknya melakukan pemeriksaan ulang setelah menyelesaikan tulisan. EYD V dapat digunakan untuk memeriksa aturan ejaan, sedangkan KBBI Daring dapat digunakan untuk memeriksa kata dan maknanya (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2022; Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2026).

Sumber:

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) edisi V. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2026). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Leave a Comment