Buku adalah jendela dunia. Buku adalah sumber ilmu. Kedua kalimat tersebut tentu sudah tidak asing lagi. Memang demikian adanya, buku merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dikemas dalam bentuk tulisan. Buku merupakan media transfer ilmu, baik sesama generasi maupun antargenerasi.
Bagaimana agar dapat menulis buku dengan baik dan mudah? Caranya yaitu menetapkan arah penulisan agar tidak sampai keluar jalur. Seorang penulis harus fokus dalam menyusun tulisan dari awal hingga akhir agar tulisan tersebut tidak keluar dari tema yang telah ditentukan.
Sebelum menulis, alangkah baiknya seorang penulis membuat outline terlebih dahulu. Outline merupakan sebuah kerangka atau rencana yang memuat garis-garis besar penulisan. Outline berperan sebagai acuan penulisan sebuah buku. Ada perbedaan dalam membuat outline untuk buku fiksi dan nonfiksi. Secara umum, membuat outline buku fiksi lebih mudah daripada nonfiksi.
- Outline Buku Fiksi
Untuk membuat outline buku fiksi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tema. Penulis terlebih dahulu menentukan tema spesifik mengenai cerita yang ingin dikembangkan menjadi sebuah buku. Tema bisa bersumber dari pengalaman pribadi dan orang lain, bisa juga murni dari imajinasi penulis. Tema merupakan cikal bakal terbentuknya cerita. Jadi, usahakan mencari tema semenarik mungkin.
Setelah menentukan tema, langkah selanjutnya adalah menentukan latar. Meliputi latar waktu, tempat, dan suasana. Tentukan kapan, di mana, dan bagaimana cerita tersebut terjadi. Terakhir adalah buat karakter tokoh. Ini juga penting karena menentukan hidup atau tidaknya cerita.
- Outline Buku Nonfiksi
Membuat outline buku nonfiksi sedikit lebih rumit daripada fiksi. Hal tersebut karena buku nonfiksi bukan sekadar cerita atau imajinasi, melainkan berisi tentang ilmu pengetahuan yang nyata. Langkah pertama dalam membuat outline buku nonfiksi adalah menentukan tema dan judul karya. Seperti buku fiksi, tema juga penting untuk memfokuskan kajian.
Setelah menentukan tema dan judul, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan materi dan data yang diperlukan. Sebelum menulis sebuah buku ilmiah, penulis terlebih dahulu harus membaca banyak buku untuk dijadikan referensi. Tidak akan kuat suatu buku ilmiah jika tidak disertai referensi untuk menunjang. Penulis tidak hanya membutuhkan referensi terbaru, tetapi dari tahun yang lama hingga baru. Harus ada buku dari tahun berbeda, hal tersebut karena pengetahuan selalu berubah dari masa ke masa. Dengan demikian, maka penulis memiliki referensi secara kompleks.
Setelah terkumpul, langkah selanjutnya yaitu menyeleksi materi dan data tersebut. Perlu diingat bahwa tidak semua materi dan data yang telah terkumpul tersebut dapat digunakan semua. Seleksi terlebih dahulu materi dan data yang paling relevan dengan tema tulisan agar fokus tulisan tetap terjaga.
Selanjutnya adalah pola tulisan. Tidak ada ketentuan baku dalam menentukan karangan, tergantung keinginan penulis. Contoh sederhana menentukan pola misalnya menceritakan sejarah secara urut dari bab pertama hingga selesai, membuat materi yang disusul pertanyaan, membuat teka-teki silang pada setiap bab, atau lainnya. Penulis dapat menyesuaikan pola dengan materi yang akan dibahas dalam buku tersebut.
Langkah terakhir yaitu pengembangan. Dari langkah-langkah membuat outline sebelumnya, lanjutkan dengan pengembangan. Sebagai contoh, tema yang telah ditentukan dipecah menjadi bab. Masing-masing dari bab tersebut diturunkan lagi menjadi subbab.
Sebelum memulai menulis, akan lebih baik lagi untuk mencermati kembali outline yang telah dibuat. Apabila diperlukan, lakukan revisi hingga outline benar-benar siap untuk dikembangkan menjadi buku secara utuh.

